Rasanya baru kemaren saya menulis sesuatu tentang the world no tobacco day, dan hari itu (31 Mei) telah datang lagi di tahun ini, hari tanpa tembakau sedunia. Adakah yang berbeda antara kebijakan tentang rokok tahun lalu dengan yang ada detik ini? Mungkin, sejujurnya, kita tidak melihat signifikansi progresnya.

Ini adalah tentang bagaimana suatu negara melindungi warga negaranya. Kalaulah negara kita memang serius mau melindungi warganya dari bahaya rokok yang memang tidak terbantahkan, semestinya usaha yang dilakukan membuahkan hasil, whatever it takes. Saya juga belum pernah mendengar (atau jangan-jangan memang saya yang tidak tau) kunjungan kerja anggota DPR RI ke luar negeri untuk meninjau bagaimana negara-negara lain bisa sukses dalam melindungi warga negaranya dari penjajahan rokok yang maha dahsyat, pun sekali. Kalaulah seandainya bapak-bapak kita di sana sudah pernah melakukannya, kita tetap masih bertumpu pada hasilnya? Ahh… saya tidak akan berlanjut mengkritisi pemerintah. Sejujurnya, berharap pada negara semata dengan peraturan perundang-undangannya bukanlah pilihan yang tepat untuk hari ini.

Perspektif undang-undang terbukti belum efektif, dan cenderung banyak yang memunculkan potensi konflik horizontal. Perspektif ini menghadapkan kepentingan kesehatan SEMUA ORANG dengan kepentingan penghidupan SEGELINTIR ORANG yang seolah-olah tidak punya sumber penghasilan lain selain bertani tembakau, seolah-olah tidak ada lagi yang bisa ditanam di lahan mereka selain tembakau; SEGELINTIR ORANG yang seolah-olah tidak punya pekerjaan lain selain menjadi buruh di industri rokok. Atau jangan-jangan pemerintah juga sudah terlanjur menikmati income dari perpajakan industri rokok? Lalu kemudian mengorbankan kualitas hidup warganya?? Ups… lagi-lagi saya mengkritisi.

Kita sudah melihat betapa banyak aksi protes terhadap rencana diterbitkannya peraturan perundang-undangan seperti peraturan daerah yang berusaha untuk melindungi warganya dari bahaya rokok dan tembakau. Sebanyak apa aksi simpatik dari warga yang peduli dengan kesehatan bangsa, maka mungkin sebanyak itu pula reaksi protes terhadap peraturan-peraturan ini yang akan dengan serta-merta menyambutnya. Kita dihadapkan dengan jeritan hidup rakyat kecil. “Ini penghidupan kami. Ini adalah nyawa kami. Kami mau makan apa tanpa adanya lapangan pekerjaan ini. Akan banyak sekali pengangguran akibat dari peraturan ini.” Atau mungkin protes dengan nada lain “Industri rokok telah terbukti menghidupkan dunia olah raga kita, industri rokok berkontribusi sangat aktif dalam membangun industri kreatif para pemuda kita, industri rokok juga bahkan sudah membantu dunia pendidikan kita, bla bla bla…” Saya dapat bayangkan bahwa mereka, para pengusaha rokok yang sangat kaya raya itu, akan tersenyum sumringah atau bahkan tertawa lepas dengan apa yang dilakukan oleh “serdadu” mereka. Mereka tidak perlu repot-repot menanggapi setiap ancaman terhadap kemajuan industri mereka, karena penjajahan mereka sudah membuahkan hasil. Mereka punya tentara yang loyal yang akan membela kepentingan usaha mereka.

Perspektif agama pun juga tidak cukup sukses. Fatwa haram saja memang tidak akan pernah cukup bagi bangsa yang masih belajar seperti bangsa kita ini. Kadang saya khawatir, jangan-jangan bangsa ini tidak tahu bahwa “haram” itu artinya adalah sama sekali tidak boleh. Atau mungkin bangsa ini juga tidak tahu bahwa melanggar yang haram itu ganjarannya adalah siksa dan neraka. Na’udzubillah…

anti tobacco campaign

No smoking, please: Members of the West Sumatra branch of the Indonesian Pharmacy Students Association (ISMAFARSI) staged a rally in Padang on Sunday calling on people to quit smoking ahead of the World No Tobacco Day on May 31. (Antara/Arif Pribadi)

Dalam tulisan ini, saya hanya akan menyampaikan bahwa kita butuh perspektif lain yang lebih baik dalam menyelamatkan bangsa dari penjajahan rokok dan tembakau. Sampai saat ini, saya masih beranggapan bahwa perspektif kesehatan mungkin perlu lebih banyak dipromosikan. Miris sekali rasanya melihat para pelajar kita yang masih berseragam SMP sedang duduk menikmati sarapan pagi mereka dengan sebatang rokok berasap di tangan mereka. Sedih sekali melihat betapa belianya ternyata orang yang membuat seisi bus kota menjadi batuk dan sesak nafas karena penuh dengan asap rokoknya, wajahnya masih menampakkan kepolosan dan mungkin baru saja pandai menghapus ingusnya. Kecilnya sudah beracun dan meracuni, besarnya bakal seperti apa…?

Saya yakin bahwa tulisan pendek ini tidak berkontribusi apa pun dalam usaha menerbitkan suatu peraturan yang lebih baik dari pemerintah dalam melindungi warganya dari bahaya rokok. Saya juga tidak berpikir bahwa opini spontan dan tidak tertata rapi ini akan menyebabkan para ulama dengan segera kembali menegaskan fatwa mereka bahwa rokok adalah haram. Tapi saya yakin sekali bahwa jika anda dan para pembaca di sini adalah orang yang pikirannya belum teracuni oleh asap rokok, maka para pembaca akan menyadari bahwa masing-masing kita bertanggung jawab untuk menyelamatkan diri dari bahaya ini; bahwa setiap kita wajib menyelamatkan keluarga dan orang-orang terdekat dari bencana ini. Ambil peran anda saat ini juga, karena rokok dan tembakau sudah mulai mengambil perannya sejak dahulu kala.

Bagaimana menurut anda??? Adakah perspektif lain yang patut kita coba untuk menyelamatkan bangsa dari rokok beserta penjajahannya???

[bersambung]

*gambar beserta keterangannya diambil dari The Jakarta Post

**tulisan ini sedikitpun tidak bermaksud mendiskreditkan para perokok aktif, karena mereka sebenarnya lebih layak untuk dikasihani daripada disudutkan (meskipun kebanyakan orang akan lebih memilih untuk membenci mereka)

Filed under: Indonesiana, Think Healthy Tagged: 31 May, postaweek2011, rokok, the world no tobacco day, tobacco